Minggu, 16 Desember 2018

Ahlus Sunnah wal Jama'ah, antara Taqlid dan Ijtihad

Ketika Rasul ditanya apa itu Ahlus Sunnah wal Jama'ah, beliau menjawab, adalah mereka yang mengikuti jalanku dan para sahabatku.

Menurut Kiai Hasyim Asy'ari, yang dimaksud dengan "mereka yamg mengikuti jalanku dan para sahabatku" adalah golongan muslim yang tunduk pada sunnah Rasul, Khulafaur Rosyidin dan menerima (taqlid) mazhab empat, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hambali, dan itulah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah menolak paham Syi'ah yang menganggap kepemimpinan masyarakat merupakan hak Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Ahlus Sunnah wal Jama'ah berarti menolak bid'ah, kecuali bid'ah hasanah , sebagai keniscayaan agar masyarakat menjadi dinamis dan kaya akan khasanah.

Menurut beberapa kalangan, pandangan taqlid pada empat mazhab dinilai menghambat kemajuan dan pembaharuan agama, juga pembatasan atas kemerdekaan akal, karena pintu ijtihad jadi tertutup. Diantara golongan intu adalah sahabat Kiai Hasyim sendiri, yaitu HOS Tjokroaminoto. Maka di suatu sore, bertanyalah HOS Tjokroaminoto kepada Kiai Hasyim.

HOS : "Saya merasa, kita semua harus berijtihad dalam hal agama agar kemajuan dan tentu saja kebebasan berpikir yang disyaratkan Al Qur'an dan Sunnah bisa kita penuhi. Jadi saya merasa dengan cara taqlid seperti yang Kiai anjurkan, kita justru mundur dan sulit untuk bisa maju. Jadi untuk mendapatkan kemajuan, kita harus berijtihad sendiri dan meninggalkan taqlid kepada empat mazhab itu, Kiai"

KHA : "Kenapa kita mesti bermazhab, menurut kami mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali) sungguh akan membawa kita ke maslahat dan kebaikan yang tak terhitung. Sebab ajaran-ajaran Islam belum bisa dipahami tanpa dengan cara memindah AlQur'an dan Hadis dengan cara-cara tertentu (istinbath) dan sangat hati-hati, dengan banyak disiplin ilmu agama, makanya taqlid kita kepada generasi sebelum kita, ulama-ulama yang terpercaya keilmuannya yang mereka mendapatkan langswung dari generasi berikutnya sampai tabiin, sahabat dan kanjeng Nabi adalah keniscayaan."

HOS : " Lalu maksud Kiai hanya membatasi empat mazhab itu badagaimana?"

KHA : "Empat mazhab ini adalah ulama yang memiliki cukup integritas dalam menjaga kemurnian ajaran yang diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya(sahih) dalam kitab-kitab yang dikenal dan dibawa oleh orang-orang yang sangat berkompeten (rajih)."
 
HOS : "Bukankah pendapat-pendapat mereka telah usang, Kiai? Sebab jarak kita dengan mereka terlalu jauh." 

KHA : "Kita tentu harus terus meningkatkan pengetahuan agama kita, sehingga status kita yang bertaqlid buta (al-a'ma) bisa naik menjadi taqlid umum (al-'am), kokoh dengan keyakinan dan pendapatnya sendiri dengan tetap berpijak pada empat mazhab itu."

HOS : "Kenapa mesti begitu?"

KHA : "Karena dalam ber-Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kita memang sudah diperingatkan Rasul agar mengikuti generasi terdahulu yang shaleh yang pandangan keagamaannya luas dan tak diragukan lagi."

HOS : "Itu berarti kita menerima kemunduran, Kiai? Itu bagi saya tidak bisa, sebab kita hidup di jaman yang selalu berubah dan sangat jauh masanya dengan masa itu, jadi ijtihad bagi kita adalah suatu keniscayaan.'

KHA : "Karena dalam fikih, syarat untuk menjadi mujtahid itu tidak sesederhana yang Kangmas maksud. Menurut Inu Hazm, kita memang dilarang untuk taqlid, dalam arti kita mesti berijtihad jika kita mempunyai syarat yang cukup sebagai mujtahid yang mutlak."

HOS : "Maksud Kiai?"

KHA : "Tentu kita harus punya guru yang sanadnya sampai kepada Rasulullah, kita telah tuntas menguasai semua ilmu tata bahasa arab, seperti nahwu, sharaf, balaghah, mani', arudl dan hafal minimal sepertiga seluruh hadis shahih dan seterusnya, yang sangat berat untuk kita lakukan sendiri. Sedangkan empat mazhab itu sudah terjamin penyandaran ilmu agamanya sampai ke jaman terdahulu. Sekali lagi, pengambilan hukum dari AlQur'an dan Hadis itu tidak bisa kita lakukan hanya dengan tangan kosong."

HOS : "Tapi Kiai, kalau empat mazhab itu punya sandaran pada ulama jaman dahulu dan sampai Rasulullah, kenapa mereka mesti berbeda satu sama lain?"

KHA : "Begini Kangmas Kaji, perbedaan yang terjadi di antara para sahabat Nabi adalah mengenai cabang-cabang hukum (furu'). Akan tetapi mereka tidak saling menyalahkan dan cekcok satu sama lain, tidak menyerang dan menganggap dirinyalah yang paling benar. Perbedaan juga terjadi di mazhab empat ini. Misalnya Abu Hanifah dan Imam Malik mengenaimbeberapa hukum Islam. Misalnya, mereka berbeda mengenai sekitar empat belas ribu masalah yang berkaitan dengan ritual (ibadah mahdah) dan kehidupan sosial (mu'ammalat). Perbadaan juga terjadi antara Imam Syafi'i dan gurunya, Imam Malik, mengenai enam ribu masalah dan juga antara Imam Ahmad bin Hambali dengan gurunya sendiri Imam Syafi'i pada banyak masalah yang lain. Akan tetapi tidak satu pun dari mereka memaki dan menganggap salah atau mempertanyakan reputasinya yang lain, misalnya ia guru dan ia murid. Sebaliknya mereka mencintai dan mendukung, dan berdoa untuk keselamatan satu sama lain."

HOS : "Terima kasih atas penjelasannya Kiai. Kemudian mengenai bid'ah bagaimana?"

KHA : "Kita tidah usahlah membesar-besarkan masalah itu. Bid'ah memang dilarang bila itu membuat ajaran baru yang dilarang oleh agama, misalnya shalat subuh jam sembilan pagi. Hehehe.."
"Bid'ah itu ada dua macam, pertama bid'ah dhalalh yang dilarang seperti shalat subuh di siang hari tadi, dan kedua justru dianjurkan, inilah yang dimaksud bid'ah hasanah itu, Kangmas..."
"Sebenarnya pada jaman nabi sudah ada cikal bakal bid'ah hasanah, misalnya inisiatif Bilal untuk azan, juga di jaman sahabat nabi, seperti penjilidan AlQur'an menjadi kitab atau mushaf. Nah, inisiatif ini ternyata diterima oleh nabi dan para sahabat yang lainnya."

HOS : " Kemudian seperti ritual ziarah kubur, tahlilan dan yasinan?"

KHA : "Loh, apa buruknya kalau orang ziarah kubur? Bukankah nabi sendiri mengisyaratkan bahwa nasihat yang paling baik adalah mengingat kematian? Dan kalau orang ziarah tujuannya untuk mengingat mati, apa itu buruk? Dalam hadis secara khusus soal ini juga sudah dijelaskan. Sementara tahlil dan yasinan, apa membaca bukan bagian dari AlQur'an, begitu juga wirid dengan bacaan-bacaan yang dicontohkan oleh nabi, apa itu buruk? Tidak to?"
"Kangmas, untuk melihat praktik paham Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu ada empat ciri, pertam tawasuth, kedua ta'adul, ketiga tawazun dan keempat tasamuh."

HOS : "Maksud Kiai? Maaf bahasa arab say kurang baik."

KHA : "Nah itu, Kangmas. Kalau bahasa arabnya kurang baik, saya kira tidak baik kalau punyanpendirian antimazhab dan semua harus dengan ijtihad sendiri. Hehe..."
"Tawasuth itu kurang lebih maksudnya adalah seorang muslim harus berbuat di tengah-tengah yaitu dengan cara moderat dalam memahami dan berbagai bidang keagamaan. Ta'adul, maksudnya adalah manusia harus menegakkan keadilan, termasuk adil terhadap dirinya sendiri, atas semua keterbatasan. Tawazun, maksudnya adalah muslim harus menunjukkan kesinambungan dalam perbuatan mereka, selaras antara kata dan perbuatan, dan tasamuh, maksudnya adalah muslim harus saling menghargai, tenggang rasa satu sama lain, termasuk dalam pendapat dan paham."

HOS : "Terima kasih Kiai."

Kutipan dari Novel Penakluk Badai hal 302-307
Novel biografi KH Hasyim Asy'ari, Penulis Aguk Irawan MN, Penerbit Republika

Rabu, 07 Februari 2018

Para Ksatria Muslim

Suatu hari, Umar sedang  duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan
gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

_*”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : _*Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.*_

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
_*”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar ... 😭😭😭

Beginilah layaknya contoh umat islam yg sebenarnya, bukan malah saling menghujat satu sama lainnya...

Kamis, 19 Oktober 2017

Adzan Terakhir


Sejak Rasulullah wafat, Bilal meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak lagi melantukan Adzan di puncak Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan permintaan Khalifah Abu Bakar ketika itu, yang kembali memintanya untuk menjadi muadzin tidak bisa Ia penuhi.
Dengan kesedihan yang mendalam Bilal berkata : “Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”
Khalifah Abu Bakar pun bisa  memahami kesedihan Bilal dan tak lagi memintanya untuk kembali menjadi muadzin di Masjid Nabawi, melantunkan Adzan panggilan umat muslim untuk menunaikan shalat fardhu.
Kesedihan Bilal akibat wafatnya Rasulullah tidak bisa hilang dari dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islamy hijrah ke negeri Syam. Bilal kemudian tinggal di Kota Homs, Syria.
Sekian lamanya Bilal tak berkunjung ke Madinah, hingga pada suatu malam, Rasulullah Muhammad SAW hadir dalam mimpinya. Dengan suara lembutnya Rasulullah menegur Bilal : “Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?
Bilal pun segera terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Ia mulai mempersiapkan perjalanan untuk kembali ke Madinah. Bilal berniat untuk ziarah ke makam Rasulullah setelah sekian tahun lamanya Ia meninggalkan Madinah.
Setibanya di Madinah, Bilal segera menuju makam Rasulullah. Tangis kerinduannya membuncah, cintanya kepada Rasulullah  begitu besar. Cinta yang tulus karena Allah kepada Baginda Nabi yang begitu dalam.
Pada saat yang bersamaan, tampak dua pemuda mendekati Bilal. Kedua pemuda tersebut adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Masih dengan berurai air mata, Bilal tua memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.
Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah, juga turut haru melihat pemandangan tersebut. Kemudian salah satu cucu Rasulullah itupun membuat sebuah permintaan kepada Bilal.
Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”
Umar bin Khattab juga ikut memohon kepada Bilal untuk kembali mengumandangkan Adzan di Masjid Nabawi, walaupun hanya satu kali saja. Bilal akhirnya mengabulkan permintaan cucu Rasulullah dan Khalifah Umar Bin Khattab.
Saat tiba waktu shalat, Bilal naik ke puncak Masjid Nabawi, tempat Ia biasa kumandangkan Adzan seperti pada masa Rasulullah masih hidup. Bilal pun mulai mengumandangkan Adzan.
Saat lafadz “Allahu Akbar” Ia kumandangkan, seketika itu juga seluruh Madinah terasa senyap. Segala aktifitas dan perdagangan terhenti. Semua orang sontak terkejut, suara lantunan Adzan yang dirindukan bertahun-tahun tersebut kembali terdengar dengan merdunya.
Kemudian saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, penduduk Kota Madinah berhamburan dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi.  Bahkan dikisahkan para gadis dalam pingitan pun ikut berlarian keluar rumah mendekati asal suara Adzan yang dirindukan tersebut.
Puncaknya saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah oleh tangis dan ratapan pilu, teringat kepada masa indah saat Rasulullah masih hidup dan menjadi imam shalat berjamaah.
Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar  paling keras. Bahkan Bilal yang mengumandangkan Adzan tersebut tersedu-sedu dalam tangis, lidahnya tercekat, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Bilal pun tidak sanggup meneruskan Adzannya, Ia terus terisak tak mampu lagi berteriak melanjutkan panggilan mulia tersebut.
Hari itu Madinah mengenang kembali masa saat Rasulullah masih ada diantara mereka. Hari itu, Bilal melantukan adzan pertama dan terakhirnya semenjak  kepergian Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkannya.



Sabtu, 09 September 2017

Memperbanyak Pilihan

Sudah sering kita mendengar ungkapan, hidup adalah pilihan. Seiring perjalanan waktu, pasti kita pernah menghadapi beberapa pilihan. Setidaknya ada tiga fase dalam kehidupan, dimana kita harus memilih. Yaitu, memilih sekolah, memilih pasangan hidup dan memilih pekerjaan. 

Setiap pilihan pasti ada konsekwensinya. Seberapa banyak pilihan yang kita punya? Misalnya dalam memilih sekolah, samakah pilihan untuk nilai ujian 7 dan 9 ? Pasti berbeda. Juga dalam hal pekerjaan, banyak yang merasa tidak cocok dengan tempatnya bekerja tapi hanya bisa mengeluh karena tidak punya pilihan lain. Bagaimana caranya agar kita bisa punya banyak pilihan?

Menurut trainer Jamil Azzaini, ada dua cara yang bisa kita lakukan. Pertama, dengan meningkatkan kompetensi kita. Bila kita punya kompetensi tinggi, maka akan memiliki "daya tawar" yang tinggi dan membuat kita lebih dihargai. 

Orang yang bekerjasama atau mempekerjakan kita akan merasa takut kehilangan kita. Bila nilai kita bagus, banyak pilihan sekolah yang mau menerima.

Kedua, dengan meperluas pengaruh kita. Kompetensi yang sudah dimiliki harus kita bagikan kepada orang lain. Semakin banyak berbagi dengan kesungguhan, pengaruh kita akan semakin luas dan kemampuan/ kompetensi kita semakin meningkat pula. 

Jadi, pilihan ada ditangan kita. Terus belajar dan berbagi. Jangan egois dan merasa hebat. Agar kita termasuk orang yang punya banyak pilihan, tidak menjadi orang lemah dan tertindas.

Senin, 16 Januari 2017

Dream of Joy

Novel bersetting sejarah Cina tahun 1957-1960 saat pemerintahan sosialis komunis dibawah pimpinan Mao. Kisah tentang Joy, gadis kelahiran Amerika yang memilih kembali ke Cina dan meninggalkan ibunya. Joy dibawa ke Amerika saat masih dalam kandungan ibunya sebagai pelarian. Saat usianya 19 tahun, ia ingin bertemu ayah kandungnya di Cina.

Setelah bertemu ayahnya,.Z.G Li, seorang seniman terkenal di Shanghai, Joy mengikutinya mengajar kebudayaan di pedesaan Naga Hijau. Bertemu orang2 yang ramah dan suasana desa yang subur dan tentram, membuatnya gembira. Sampai kemudian jatuh hati pada seorang pemuda desa yang berbakat seni, Tao, dan kemudian menikah. Menjalani hidup di pedesaan dengan menggarap ladang, menanam tanaman sesuai perintah ketua agung Mao, meskipun salah tetap harus dilaksanakan.

Hingga terjadilah gagal panen dan masa paceklik tiba. Cara menanam yang salah menjadi penyebabnya. Kekurangan bahan makanan makin diperparah dengan keharusan menyetor hasil pertanian ke pusat. Setahun bisa bertahan, tidak untuk tahun kedua. Sampai tidak ada apapun yang tersisa, bahkan rumput liar dan tikuspun sudah habis dimakan. Satu persatu mati, yang masih hidup pun hanya tulang terbungkus kulit dan bengkak2 di beberapa bagian tubuh. Tidak boleh ada yang keluar masuk daerah pedesaan, surat2 disensor, hingga tak ada bantuan apapun.

Meskipun Joy dan Tao tidak akur lagi setelah pernikahannya, mereka mempunyai bayi perempuan yang cantik. Samantha, nama bayi itu, masih sedikit beruntung karena mendapat kiriman susu formula dari neneknya. Kiriman makanan yang lain banyak yang disita oleh pimpinan di desa. Banyak bayi mati dan kemudian dimasak untuk dimakan anggota keluarga yg lain.

Tidak ada yang tahu kondisi Joy, bahkan ayah dan ibunya (Pearl) yang tinggal di Shanghai tidak bisa menemuinya tanpa adanya surat perjalanan. Sampai suatu hari, bayi Joy ditukar dengan bayi lain, untuk dijadikan hidangan seluruh keluarga. Joy sempat melarikan diri meski tidak berhasil. Kemudian dengan membujuk pimpinan desa agar memotret karya seni mural dan mengirimya ke kota, maka Joy bisa mengirim kabar kepada ibunya.

Ibu dan ayahnya segera menjemput Joy, Samantha dan Tao di desa, meski dengan sedikit bujuk rayu untuk bisa mendapatkan ijin. Pemandangan mengerikan ada di sepanjang jalan, mayat2 berlimpangan tak ada yang mengurus.

Berbulan bulan Joy dan Samantha dirawat ibu, yang sebenarnya adalah bibinya, hingga kembali sehat. Kemudian mereka merencakan pergi keluar dari Cina. Ibu kandung Joy, May, menunggu di Hongkong dan akan membawa mereka ke Los Angeles, Amerika.

Selasa, 08 Maret 2016

MARAH

Marah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Semua pasti sudah tahu itu. Siapapun setuju bahwa orang yang paling kuat bukanlah mereka yang bisa menaklukkan dunia, tapi mereka yang bisa menahan amarahnya.

Beberapa kondisi bisa mencetuskan kemarahan. Meski berbeda tiap-tiap orang kadar kemarahan dan reaksinya. Ada yang secara frontal terlihat nyata, ada yang bisa mengendalikannya secara elegan. Ada orang yang mudah sekali marah, hanya karena senggolan di jalan. Sebaiknya harus bisa menjaga emosi dan tahu situasi. Tidak lucu, bila seorang guru marah-marah disebabkan muridnya salah menjawab soal. Atau pegawai yang marah-marah karena deadline.

Kebalijan dari pemarah adalah sabar. Sabar bukan berarti tidak pernah marah, tetapi hanya berbeda kadar dan reaksi marahnya.

Diam saat marah terkesan lebih elegan daripada melampiaskan dengan teriak-teriak atau memaki. Karena saat marah, kita cenderung tidak berpikir jernih. Ucapan lebih ngawur, tindakan terkesan bodoh, apalagi jika harus mengambil keputusan, pasti sering membuat kesalahan.

Jadi, apa untungnya marah? Tidak ada, jika hanya membuat kesalahan baru. Sangat berguna, jika menjadikan kita terpacu melakukan yang terbaik dan menjaga kehormatan diri, keluarga dan agama.

Rabu, 22 April 2015

Cara Sehat Menurunkan Berat Badan

1.  Mulailah sekarang juga!  Menurunkan berat badan tak cukup hanya bermodalkan niat. Anda perlu tekad dan semangat baja. Bagaimana berat bisa turun, kalau Anda tak kunjung memulainya? 

2. Pasang target yang masuk akal Tetapkan target di awal program. Tak usah muluk-muluk. Turun berat badan 0,5 kg per minggu adalah ideal. Bila drastis justru berbahaya bagi kesehatan. Untuk tambahan motivasi, gantunglah hot pants atau celana jins favorit Anda yang sudah lama ngumpet di lemari, di tempat yang mudah terlihat.  

3. Tak perlu terlalu ketat Anda tetap butuh 1.200-1.500 kalori per hari agar tubuh tetap prima. Membabat kalori hingga tersisa 600 sampai 800 kalori per hari akan memperlambat proses metabolisme tubuh. Jika metabolisme berjalan lambat, kesempatan lemak menimbun dalam tubuh pun makin besar. Bukannya langsing, malah penyakit yang datang.

4. Percepat makan pagi    Jangan menghapus makan pagi. Sebuah penelitian mengungkapkan, 4.000 orang Amerika dewasa yang berhasil menurunkan berat badannya sekitar 15 kg dalam setahun  adalah mereka yang tak pernah lupa sarapan. Biasakan sarapan pukul 9.00 cobalah digeser menjadi pukul 7.00 agar proses pembakaran energi dimulai lebih cepat.

5. Jangan asal sarapan  Mulailah hari dengan sarapan 300-400 kalori, tapi bukan dengan makanan berlemak tinggi. “Pilihlah setangkup roti gandum panggang isi dadar 1 butir telur, ditambah 1 mangkuk salad. Atau, 100 gram nasi dengan 1 potong ikan ditambah 1 mangkuk sayur,” saran dr. Pauline Endang SpGK, dokter spesialis gizi klinis di Jakarta.

 6. Kunyah makanan 36 kali! Coba hitung, berapa jumlah kunyahan Anda sewaktu makan? Jika kurang dari 36 kali, cobalah tambah. Makin lama Anda mengunyah, makanan akan lebih mudah dicerna, Anda pun akan lebih mudah merasa kenyang.

7. Perbanyak minum air putih “Kurang minum bisa memperberat kerja ginjal yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi. Hal ini dapat mengganggu sistem metabolisme tubuh,” kata dr. Endang. Jika Anda rajin minum air putih 1,5 liter atau 8 – 10 gelas per hari, tanpa diet apa pun, maka dalam waktu satu tahun bobot Anda bisa turun hingga 2,5 kg.

8. Gerak, dong!  Olahraga selama 60-90 menit, 3-4 kali seminggu, wajib dilakukan. Paduan aerobik berupa joging dan jalan kaki, masing-masing berselang-seling setiap 3 menit, cukup efektif membakar lemak. Jika tak sempat, berjalan kaki keliling rumah atau ruangan kantor selama 5 menit setiap selang satu jam bisa membakar 200-300 kalori.
Aktiflah setiap hari, seaktif yg anda bisa. Misalnya naik turun tangga sebagai ganti menggunakan lift, jalan kaki bila berbelanja, Menyapu dan mengepel lantai, berkebun dan memarkir kendaraan jauh dari kantor sehingga jalan kaki menuju ke kantor.
Batasi bermalas-malas seperti nonton tv, main game, tidur berlebihan dan duduk didepan komputer seharian.

9. Lebih banyak serat  Serat juga punya peran besar dalam mengusir lemak. Makin banyak serat yang masuk dalam tubuh, volume feses akan makin cepat membesar karena serat bersifat menyerap air. Orang dewasa perlu 21 gram serat per hari. “Jika Anda biasa makan buah dan sayur, tambahlah porsinya menjadi 5 mangkuk per hari. Bagilah dalam 5 kali makan,” anjur dr. Endang.

10. Buah saja tak cukup  Anda akan mudah kelaparan kalau hanya makan buah atau sayur. Masukkan 15%-20% protein di setiap menu Anda untuk meningkatkan metabolisme. Sistem pencernaan butuh energi untuk melakukan proses metabolisme.
Karena mudah lapar, akhirnya malah ngemil. Bisa juga karena sudah kebiasaan jadi sulit dihilangkan.

Cara mengatasinya? Salah satunya dengan mengonsumsi Nutrishake, yaitu minuman bernutrisi mengandung serat dan protein, yang memberi rasa kenyang. Produk ini dikembangkan dan diproduksi melalui standart keamanan dan kualitas tinggi dan didukung oleh data ilmiah yang akurat dari Swedish Nutrition and Health Research.


sumber: http://www.femina.co.id/
              Wellbeing panduan produk by oriflame